Selasa, 04 Agustus 2015

Ngeblog itu Gampang

Zaman bokap/nyokap kita dulu, konon, untuk agar tulisan dibaca orang lain repotnya bukan main. Gak smua orang yang tulisannya bisa dimuat media massa. Sementara, sebagai catatan harian (diary) hanya sebentuk buku dengan tulisan tangan. Duh, zaman bahuela!


Boro-boro hape, telepon kabel saja gak semua orang punya kok. Tivi pun demikian. Hanya orang tajirlah yang punya barang yang kala itu terbilang mewah. Padahal, menurut cerita nyokap gue, saluran tivi cuma atu! Hanya TVRI doang.


Balik lagi ke soal alat komunikasi.

Orang zaman dulu lebih sering pakai surat. Iya, surat yang ada amplop dan kudu ditempelin perangko. Iya, perangko. Eh, jangan-jangan sekarang ini ada di antara kita yang gak tahu bentuknya perangko. Itu tuh, sejenis materai tetapi khusus untuk berkirim surat. Nominalnya macam-macam; tergantung jenis layanan yang diinginkan. Ada yang cuma 150 perak, ada yang 300 perak ada pula yang 1000 perak. Ih, uang segitu sekarang dapat buat beli apa coba? Padahal, masih kata nyokap gue, perangko yang harganya 1000 itu sudah termasuk jenis kilat khusus. Artinya; surat bakalan cepet nyampainya.


Tepi cepet zaman itu jangan dibandingin dengan kecepatan zaman sekarang. Yang sekali klik, email langsung diterima. (kata email itu lebih ngetop ketimbang surel sebagai istilah lokal, seperti halnya online lebih akrab di istilah dibanding daring. Wah, ketahuan dong, kita lebih suka pakai bahasa asing daripada bahasa Indonesia.)


Sekarang tentang buku harian atawa Diary. Ada lho ya yang nulis diary itu bukan melulu curhat yang diam-diam (karena malu kalau disampaikan kepada teman, jadilah buku diary itu sebgai teman curhat. Iya, sih, salah orang untuk ngluarin kata hati, bisa jadi kita malah di-bully). Selain sebgai sahabat, diary bisa dijadiin tempat untuk menulis imajinasi. Bisa puisi, esai atau lain-lain. Nah, untuk yang ini sebenarnya kan sayang kalau cuman dibaca sendiri. Sayangnya, zaman itu gak ada sarana yang memungkinkan untuk menyebar karya kita secara mudah dan bisa menjangkau secara luas.


Sekarang? Ppeeehhhh..... gampang, sob.

Tinggal bikin emain di Google, buat blog, beres. Apa pun yang kita tulis bisa langsung di-share untuk saat itu juga bisa dibaca orang di sudut antartika, misalnya. (Eh, Tika itu emang penakut ya, tapi hebat. Gara-gara kemana-mana minta diantar, eh pas nemuin tempat yang dingin, jadilah ia menjadi nama benua: Antartika. Coba yang kemana-man minta diantar itu si Mahmud, benuanya kan menjadi Antarmahmud. Hehe.. ngelantur ya?)


Betul, bikin akun blog itu gampang. Yang susah itu bisa secara bertanggung jawah (cieehhh...) untuk secara rutin memposting tulisan di blog yang sudah dibikin. Jangan khawatir, kita gak sendirian kok punya kebiasaan (buruk) itu. Tanyain aja teman-teman loe yang punya blog, taruhan deh, kadang belum tentu sebulan sekali bikin entry baru. Jangan bikin alasan gak sempat. Loe ngibul banget kalau nyampain dalih itu. Akuin aja loe males. Loe bilang gak ada waktu untuk ngeblog, tapi loe betah berjam-jam tengkurap main gadget. Gile loe!


Makanye gue seneng banget pas nemuin blog ini. Dalam hati gue janji (sambil ngangkat dua jari) bakal ngirim artikel lain di sini. Kapan? Ya kapan-kapanlah. Loe juga dong. Mari hujani blog terbuka ini dengan tulisan (asal) kita. Gak apa-apa, walau ngasal, asal jangan jorok.


Gak zaman pelajar tawuran, sob. Itu mah jahiliyah, istilah guru agama gue. Daripada berantem, mending kita ngumpul disini, menghiasi blog ini rame-rame!



Minggu, 02 Agustus 2015

Cita-cita

Gantunglan cita-cita setinggi langit adalah salah satu alasan kenapa
kemudian kita menuliskan cita-cita pada balon lalu melepasnya terbang.
Benarkah balon itu akan mencapai langit atau hanya terbang sebentar
lalu tertiup angin dan ia kemudian tersangkut di tiang listrik? Lalu
dor! Meletus.

Kawan, yang kita bicarakan di atas hanyalah simbol, hanya analogi.
Bahwa yang sejatinya dilakukan adalah langkah lanjutan setelah
cita-cita itu digantungkan. Percuma saja kita menitipkan cita-cita pada
balon ke langit bila tanpa diikuti usaha keras untuk terwujudnya cita-cita itu.
Ya, cita-cita akan indah dikatakan tetapi menjadi hambar manakala
tanpa disertai passion.

Bisa jadi tukang tambal ban di pinggir jalan, atau penggali kabel yang
kerjanya belepotan lumpur itu tidak bercita-cita bekerja demikian. (Zaman
sekolah seperti kita dulu, barangkati beliau-beliau itu berkeinginan
menjadi wartawan, atau arsitek atau bahkan presiden!)
Ups, maaf, bukan berarti kita menganggap pekerjaan mereka tidak baik.
Bukan. Namun, sekali lagi, cita-cita yang tanpa diupayakan secara
sungguh-sungguh akan sangat sulit untuk kesampaian.

NB: ketika menjadi dokter harus lulus dari Fakultas Kedokteran dulu,
dan menjadi tentara atau polisi harus lulus seleksi dan pendidikan
dulu, ada satu cita-cita yang bahkan bisa diwujudkan hari ini. Iya,
sekarang!

Apa itu?
Beruntunglah kalau kalian yang memiliki cita-cita sebagai penulis.
Karena ia bisa langsung dilakukan secepat yang kita inginkan. Dan
waktu terbaik untuk mewujudkan itu adalah saat ini.
Ya, ayo kita menulis dari sekarang!