Gantunglan cita-cita setinggi langit adalah salah satu alasan kenapa
kemudian kita menuliskan cita-cita pada balon lalu melepasnya terbang.
Benarkah balon itu akan mencapai langit atau hanya terbang sebentar
lalu tertiup angin dan ia kemudian tersangkut di tiang listrik? Lalu
dor! Meletus.
Kawan, yang kita bicarakan di atas hanyalah simbol, hanya analogi.
Bahwa yang sejatinya dilakukan adalah langkah lanjutan setelah
cita-cita itu digantungkan. Percuma saja kita menitipkan cita-cita pada
balon ke langit bila tanpa diikuti usaha keras untuk terwujudnya cita-cita itu.
Ya, cita-cita akan indah dikatakan tetapi menjadi hambar manakala
tanpa disertai passion.
Bisa jadi tukang tambal ban di pinggir jalan, atau penggali kabel yang
kerjanya belepotan lumpur itu tidak bercita-cita bekerja demikian. (Zaman
sekolah seperti kita dulu, barangkati beliau-beliau itu berkeinginan
menjadi wartawan, atau arsitek atau bahkan presiden!)
Ups, maaf, bukan berarti kita menganggap pekerjaan mereka tidak baik.
Bukan. Namun, sekali lagi, cita-cita yang tanpa diupayakan secara
sungguh-sungguh akan sangat sulit untuk kesampaian.
NB: ketika menjadi dokter harus lulus dari Fakultas Kedokteran dulu,
dan menjadi tentara atau polisi harus lulus seleksi dan pendidikan
dulu, ada satu cita-cita yang bahkan bisa diwujudkan hari ini. Iya,
sekarang!
Apa itu?
Beruntunglah kalau kalian yang memiliki cita-cita sebagai penulis.
Karena ia bisa langsung dilakukan secepat yang kita inginkan. Dan
waktu terbaik untuk mewujudkan itu adalah saat ini.
Ya, ayo kita menulis dari sekarang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan meninggalkan komentar dengan tulisan yang sopan dan tidak mengandung SARA.